Index Labels

Home » Kesehatan» Sains» Ilmuan: Menangis Dapat Merusak Perkembangan Otak Bayi

Ilmuan: Menangis Dapat Merusak Perkembangan Otak Bayi

.
Hingga saat ini, masih banyak para orangtua yang percaya bahwa membiarkan bayi menangis sampai tertidur dengan sendirinya merupakan suatu hal yang wajar. Mereka menganggap bahwa cara tersebut tidak berbahaya bagi bayi, padahal sebenarnya tidak sama sekali. Menurut Penelope Leach, seorang pakar anak profesional dan terkemuka, beberapa bayi memang lebih sering menangis dibanding yang lainnya. Namun hal tersebut bukanlah tanpa sebab, ada alasan tertentu kenapa mereka bisa menangis, yang seharusnya dipahami oleh orangtua.
Bayi menangis
Bayi menangis
Sementara beberapa orangtua justru berpikir bahwa jika mereka meninggalkan bayinya menangis selama beberapa menit bahkan hingga berjam – jam, maka lama – kelamaan ia akan lelah sendiri dan akhirnya tertidur. Menurut Penelope, metode pendekatan semacam itu sangat buruk bagi perkembangan bayi. Dia menyarankan kepada semua orangtua agar segera menghentikan kebiasaan ini karena beberapa alasan. Alasan yang pertama: pada usia tahun pertamanya, hal ini sangat penting bagi bayi untuk belajar bagaimana mendapatkan respon dari orangtua. Namun jika bayi tidak menerima respon apapun dari orangtuanya, maka hal tersebut justru dapat menyebabkan masalah emosional berat.

Alasan yang kedua adalah otak bayi masih dalam tahap perkembangan. Menangis dapat meningkatkan kortisol, atau yang biasa dikenal sebagai hormon stress. Jika bayi selalu berada di bawah tekanan stress secara reguler, hal ini dikhawatirkan dapat menjadi kecemasan awal yang akan tetap bertahan sampai bayi menjadi dewasa kelak.

Banyak orangtua percaya bahwa menangis dapat membantu perkembangan paru – paru bayi, namun Penelope mengklaim bahwa mereka menangis karena suatu alasan dan bukan tanpa sebab. Dia juga mengatakan bahwa bayi tidak tahu kapan harus tidur, sehingga dengan menghibur mereka para orangtua dapat membantu anaknya untuk merasa lebih baik dan nyaman.

Advertisement:

Advertisement:

Baca Juga