Home » Dunia» Unik» Misteri Aneh Kehidupan Anak Kembar June dan Jennifer Gibbons

Misteri Aneh Kehidupan Anak Kembar June dan Jennifer Gibbons

. . Tidak ada komentar:
Kisah Misteri Dunia ~ Ilmu psikologi tentang fenomena anak kembar (The twins) masih menjadi topik bahasan menarik oleh banyak ilmuan sampai kini. Selama lebih dari satu abad, penelitian tentang anak kembar masih terus dilakukan untuk lebih memahami keterkaitan antara sifat genetika dengan perilaku khusus manusia. Seringkali anak kembar memiliki ikatan secara fisik dan mental secarakhusus, seperti halnya ikatan antara anak beda usia dengan orangtua yang sama.
Si kembar June dan Jennifer Gibbons (sumber)
Salah satu kisah paling aneh dan misterius fenomena anak kembar adalah tentang June dan Jeniffer Gibbons. Bagaimana tidak, kedua anak kembar ini seolah-olah bisu atau tidak mau berbicara kecuali hanya dengan saudara kembarnya sendiri. Lahir di tahun 1963, June dan Jennifer Gibbons dikenal dengan julukan “The Silent Twins” atau Si Kembar Bisu karena keanehan pada dirinya yang tidak mau berbicara kepada siapapun (seolah-olah bisu) kecuali hanya kepada saudara kembarnya sendiri.

June dan Jennifer Gibbons lahir tepatnya pada tanggal 11 April tahun 1963 di Barbados. Segera setelah kelahiran mereka, orangtuanya kemudian pindah ke Haverfordwest, Wale. Saat tumbuh dan beranjak dewasa, semakin terlihat bahwa keduanya seolah-olah tidak dapat saling dipisahkan satu sama lain. Bahkan mereka memiliki cara khusus dan aneh dalam berbicara, yang tidak dapat dipahami oleh orang lain bahkan orangtuanya sendiri sekalipun. Mereka berbicara dengan cara yang sangat cepat dengan logat-logat seperti bahasa Inggris namun tidak dapat dipahami.
June dan Jennifer Gibbons masa kanak-kanak (sumber)
Mereka kemudian dibawa ke sejumlah terapis berbeda, saat itu mereka berusia 14 tahu. Namun tak satupun dari dokter atau psikiater yang mampu membuatnya mau berbicara dengan orang lain. Upaya masih terus dilakukan, keduanya ditempatkan dalam asrama berbeda dengan harapan agar mereka mau berbicara dengan orang lain. Namun upaya tersebut ternyata justru hanya membuat mereka menjadi katatonik dan bahkan semakin menutup diri.

Saat dokter menyadari adanya kemungkinan dampak buruk yang terjadi dari memisahkan mereka dengan keluarga, pihak dokter kemudian meminta keluarga untuk menjemputnya kembali ke rumah. Tak ada perubahan, di rumahnya mereka masih suka mengisolasi diri di dalam kamar dan menghabiskan waktu berdua. Mereka mengusir kebosanan dengan bermain boneka dan membuat sebuah drama cerita. Saat Natal 1979, mereka mendapat hadiah sebuah buku harian. Sejak saat itu, mereka mulai menulis secara lebih ekstensif dalam buku hariannya. Setidaknya mereka menulis sekitar tiga ribu kata setiap harinya.
June dan Jennifer Gibbons saat usia remaja (sumber)
Di halaman buku harian tersebut, si kembar mengungkapkan sisi gelap dari ikatan mereka berdua. June menulis (yang kurang lebih terjemahannya), “Tak seorangpun merasakan penderitaan seperti yang saya rasakan, bukan dengan saudaran perempuan; dengan suami, ya; dengan isteri, ya; dengan anak, ya; tetapi dengan saudara kembarku sendiri, sebuah bayangan gelap yang menutupi sinar matahari, adalah satu-satunya siksaan bagiku”.

Dari menulis buku harian tersebut, si kembar kemudian memutuskan untuk lebih menekuni karir di bidang menulis. Mereka mengambil kursus menulis kreatif lewat surat menyurat. Keduanya lalu menulis judul novel yang berbeda. June menulis sebuah novel yang berjudul Pepsi-Cola Addict, yang bercerita tentang pahlawan yang tergoda oleh gurunya di kelas dan setelah itu ia dikirim ke asrama. Disana ia diteror oleh seorang penjaga yang homoseksual.
Novel karya June dan Jennifer Gibbons (sumber)
Sementara jennifer menulis tiga judul novel, diantaranya: The Pugilist, Discomania, dan Taxi-Driver’s Son. Dia juga menulis drama radio yang berjudul Postman and Postwoma, serta beberapa cerita pendek lainnya. Kesemua novel yang mereka tulis pada intinya bertemakan tentang kriminalitas. Namun sayangnya, novel dan tulisan-tulisan yang mereka buat gagal menarik perhatian dunia literasi sastra.

Setelah novel mereka tidak ada yang laku, akhirnya si kembar memutuskan untuk melakukan tindak kejahatan sungguhan. Mereka melakukan pencurian dan bahkan sering merusak dan membakar bangunan milik orang tanpa alasan. Mereka akhirnya dibawa ke pengadilan dengan tuduhan pembakaran dan pengrusakan. Hakim memutuskan tidak memasukkan mereka ke penjara lantaran keduanya menderita gangguan sosial yang parah. Namun mereka harus dikurung dalam fasilitas rehabilitasi mental dengan keamanan ekstra ketat.

Si kembar dikirim ke rumah sakit jiwa Broadmoor dan tinggal disana selama empat belas tahun berikutnya. Kasus mereka mulai mencuat di masyarakat saat wartawan Marjorie Wallace meliput dan memuatkisah mereka di The Sunday Times.

Di rumah sakit, perilaku si kembar bersaudara tersebut cukup membingungkan para dokter. Mereka selalu bergantian saat makan, dimana suatu hari salah satunya makan dengan sangat rakusnya namun saudara kembarnya justru menahan kelaparan. Hari berikutnya, mereka bergantian peran siapa yang waktunya makan dan siapa yang waktunya harus berpuasa. Si kembar ditempatkan dalam sel berbeda, satunya di bagian ujung rumah sakit dan satunya di bagian paling belakang rumah sakit. Namun para suster sering mendapati mereka meringkuk kedinginan dalam pose aneh yang sama persis.
June dan Jennifer foto bersama suster rumah sakit (sumber)
Selama menjalani hari-harinya di rumah sakit jiwa, si kembar mulai yakin bahwa agar mereka bisa hidup normal, salah satunya harus ada yang meninggal. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya mereka berdua sepakat bahwa Jennifer yang harus meninggal. Pada bulan Maret 1993, para dokter memutuskan untuk menransfer si kembar ke Caswell Clinic. Sebelum perpindahannya, wartawan Marjorie Wallace datang untuk mewawancarai para suster. Selama kunjungan, Jennifer tiba-tiba sekonyong-konyong berkata sambil minum teh, “Marjorie, Marjorie, Saya yang harus meninggal”. Ketika ditanya Wallace mengapa, Jennifer dengan tenang hanya menjawab, “Karena kami sudah memutuskannya”.

Selama perjalanannya ke klinik Caswell, Jennifer tidur di pangkuan June dengan mata terbuka. Setelah mencapai klinik, Jennifer sudah tidak responsif dan dinyatakan meninggal oleh dokter. Diduga penyebab kematiannya yang tiba-tiba tersebut dikarenakan gagal jantung. Namun stelah dilakukan otopsi lebih lanjut, dokter tidak menemukan adanya obat atau racun tertentu dalam tubuhnya, termasuk adanya tanda-tanda kerusakan pada jantung dan kematiannya masih menjadi misteri sampai hari ini.

Saat June diinterogasi pada pemeriksaan, ia mengungkapkan bahwa Jennifer bertingkah aneh selama beberapa hari menjelang transfer perpindahan mereka. June juga berkata bahwa perkataan Jennifer melantur dan mengira bahwa dia sedang sekarat. Beberapa hari kemudian ketika Marjorie Wallace mengunjungi lagi, June mengatakan, “Saya akhirnya bebas, dibebaskan, dan pada akhirnya Jennifer telah menyerahkan hidupnya untukku”.
June Gibbons
Anehnya setelah kematian kakanya, Juni langsung berinteraksi secara normal dengan orang-orang sekitarnya. Dia tidak lagi membutuhkan pengawasan dari psikiater dan telah diterima kembali secara penuh di lingkungannya. Dia saat ini tinggal dan hidup dengan tenang di West Wales dekat rumah orangtuanya.

Jennifer terkubur di bawah nisan yang diukir dengan kalimat puisi. Puisi tersebut ditulis oleh June yang isi kalimatnya: “We once were two/We two made one/We no more two/Through life be one/Rest in peace”.

√Baca Juga√

Loading...