Home » Dunia» Sejarah» Kisah Manusia Keji yang Berakhir Menjadi Sepasang Sepatu

Kisah Manusia Keji yang Berakhir Menjadi Sepasang Sepatu

. . Tidak ada komentar:
George Parrott, atau lebih dikenal dengan julukan Big Nose George adalah seorang yang dulunya pengembala ternak dan tukang roti di Wild West Amerika pada akhir abad ke-19. Dilihat secara fisik, dia memang memiliki bentuk hidung yang tampak besar, sehingga orang-orang spontan menjulukinya sebagai the Big Nose atau sang hidung besar. Namanya mulai mencuat setelah ia alih profesi menjadi seorang kriminal dan telah melakukan beberapa kali aksi perampokan keji disertai pembunuhan korbannya.
Sepatu manusia
Sepasang sepatu yang menyimpan sejuta misteri (Scott Burgan/Flickr )
 Aksi kejahatan paling terkenal yang dilakukannya adalah tatkala ia dan kelompoknya melakukan aksi perampokan pada tahun 1878 di sebuah kereta api UNION PACIFIC yang kebetulan penumpangnya adalah orang-orang penting (businessman) dan membawa sejumlah uang cash, yang kabarnya akan digunakan untuk membayar gaji para karyawannya. Setelah menemukan titik sepi di dekat sungai Medicine Bow River, Wyoming, ia dan para kelompoknya mulai melakukan aksinya.

Disana, mereka sengaja merusak jalur kereta agar nantinya kereta api mengalami kecelakaan atau kerusakan tepat pada tempat yang ditentukan. Namun ternyata rencananya tersebut tidak berjalan mulus karena ada salah seorang petugas kereta api awas yang cepat mengetahui dan segera memperbaiki kerusakan tersebut. Karena merasa curiga ada orang yang sengaja telah merusaknya, petugas tersebut lantas meminta bantuan kepada pihak keamanan.

Takut tertangkap pihak berwajib, Big Nose dan gerombolannya kemudian bertolak ke Rattlesnake Canyon di kaki pegunungan Elk Mountain. Ternyata disana sudah ada dua orang petugas keamanan yaitu wakil sheriff Wyoming Robert Widdowfield dan detektif Union Pacific Tip Vincen. Para petugas tersebut melihat ada bekas api unggun yang sepertinya telah buru-buru dimatikan dan ditinggalkan. Saat Widdowfield membungkukan badan untuk memastikan abu dari sisa api unggun tersebut, tiba-tiba ada tembakan spontan dari semak-semak dan membuatnya tewas di tempat kejadian. Vincent yang mengetahui kejadian tersebut mencoba berbalik arah untuk melarikan diri, namun akhirnya juga langsung tewas tertembak.

Setelah terjadi peristiwa pembunuhan kedua petugas keamanan tersebut, pihak Union Pacific Railroad kemudian menawarkan hadiah $10,000 USD bagi siapapun orangnya yang bisa menangkap Big Nose George. Tak berapa lama, hadiah ini kemudian dilipat gandakam menjadi $20,000 USD. The Big Nose dan para anak buahnya masih sempat hidup bebas selama dua tahun sampai pada suatu ketika mereka mabuk di sebuah bar di Miles City, Montana, dan secara tidak sadar membual tentang aksi pembunuhannya di Elk Mountain. Union Pacific Railroad segera mengeluarkan hadiah sebesar $ 10.000 di kepala Big Nose George. Ini kemudian berlipat ganda menjadi $ 20.000.
 
Satu-satunya poto wajah George Parrott aka Big Nose
George dan anak buahnya tetap bertahan selama dua tahun berikutnya, sampai Big Nose mabuk di sebuah bar di Miles City, Montana, dan membual pembunuhan di Elk Mountain. Dia lalu ditangkap dan dibawa kembali ke Rawlins, di mana pengadilan kemudian memutuskan bahwa dia telah bersalah dan dijatuhi hukuman mati berupa gantung.

Sepuluh hari sebelum jadwal hukuman matinya, Sepuluh hari sebelum eksekusi yang dijadwalkan, pada 22 Maret 1881, George Parrott berusaha melarikan diri. Dengan menggunakan pisau saku, dia menggergaji borgol tangan yang mengikatnya dan memukul keras sipir Robert Rankin di bagian kepala hingga tengkoraknya retak. Meski terluka, Rankin berhasil memanggil istrinya, Rosa, yang kemudian meraih pistol suaminya dan memerintahkan George Parrott untuk kembali ke selnya.

Ketika berita tentang upaya melarikan diri tersebut menyebar ke seluruh kota, massa yang marah menyerbu masuk ke penjara, menyeret George Parrott keluar dan mengikatnya pada tiang telegraf hingga tewas secara mengenaskan.

Karena tidak memiliki riwayat keluarga jelas yang mau mengakui jenazahnya, Dokter Thomas Maghee dan John Eugene Osborne lantas mengambil alih tubuh Parrott untuk dilakukan penelitian pada otaknya terkait perilaku kriminalitas keji yang dilakukannya. Para dokter menggergaji bagian atas tengkorak Parrot dan memeriksa otaknya namun tidak menemukan perbedaan yang mencolok antara otak Parrot dan yang "normal".
Tengkorak kepala George Parrott di Museum Carbon County (Scott Burgan/Flickr)
Sejak saat itu, eksperimen John Osborne mulai berubah semakin aneh-aneh. Dia awalnya membentuk topeng menyerupai wajah George menggunakan plester paris. Kemudian dia mengelupas kulit paha dan dada mayat George Parrott dan membawanya ke tempat penyamakan kulit di Denver dengan petunjuk instruksi yang sangat spesifik. Kulit dari tubuh Parrott,  kemudian dibuat menjadi sepasang sepatu dan tas untuk tempat obat. Ketika Dr. Osborn menerima sepatunya yang telah jadi, dia merasa agak kecewa karena mendapati pengrajinnya tidak ikut menjahit kulit puting susu, namun begitu dia tetap mau memakainya.

Hari ini, sepatu yang terbuat dari kulit Big Nose George, bersama dengan bagian bawah tengkorak dan topeng kematiannya, dipajang permanen di Carbon County Museum di Rawlins, Wyoming. Tengkorak itu ada di Union Pacific Museum di Omaha, Nebraska. Namun tas obat yang terbuat dari kulitnya tidak pernah ditemukan.

√Baca Juga√

Loading...